Pengabdian & Inovasi Sosial Remaja
Lewat Pagelaran Seni, Tim PKM-PM BINALAR Ajak Remaja Panti Berkarya
Pagelaran seni ‘Paturay Tineung’ menjadi puncak selebrasi kepercayaan diri dan ekspresi budaya remaja panti Yayasan Rumah Cahaya Cendekia bersama program BINALAR.
Tim PKM-PM BINALAR IPB
Fakultas Ilmu Sosial dan Ekologi Manusia (FISEMA)
6 September 2026
Bogor, Jawa Barat
Bogor, 6 September 2026 — Ada yang berbeda dari suasana Yayasan Rumah Cahaya Cendekia (YRCC) hari itu. Para remaja yang biasanya menjalani hari-hari sederhana di panti, kini berdiri di depan tamu undangan, menampilkan karya yang mereka siapkan berbulan-bulan selama mengikuti program BINALAR (BINA–AKSI–LARUNG–RASA). Acara bertajuk Paturay Tineung ini bukan sekadar penutup rangkaian kegiatan, melainkan panggung bagi para peserta untuk unjuk diri sekaligus merayakan perjalanan panjang yang telah mereka lalui bersama tim BINALAR.
Pertunjukan dibuka dengan tarian. Peserta laki-laki membawakan Tari Maung Lugay, sementara peserta perempuan tampil dengan Tari Buyung. Gerakan demi gerakan mereka bawakan dengan semangat yang terlihat jelas dari raut wajah dan tepuk tangan penonton. Bagi anak-anak ini, tarian bukan cuma soal koreografi, ini soal keberanian tampil di depan orang banyak, membangun rasa percaya diri, dan belajar kompak bekerja sama dalam satu pertunjukan.
Selepas tarian, giliran musik tradisional yang mengisi panggung. Karinding, celempung, dan angklung dimainkan langsung oleh para peserta. Momen ini jadi kesempatan berharga bagi mereka untuk mengenal lebih dekat kesenian Sunda, sekaligus menjadikan alat-alat musik tersebut sebagai media berekspresi.
“Wah, anak-anak sudah terlihat bisa dan saya sangat senang melihat mereka belajar sampai bisa menampilkan kesenian Sunda seperti ini. Kelihatannya mereka juga menikmati prosesnya,”
Tak berhenti di tari dan musik, para peserta juga menyuguhkan Lalakon Sukma, sebuah pertunjukan drama yang lahir dari cerita dan dialog yang mereka susun sendiri dalam bahasa Sunda. Setiap peserta memerankan tokoh dalam kisah tersebut. Proses menulis naskah hingga memerankannya di atas panggung memberi mereka ruang untuk menuangkan gagasan dan perasaan, sekaligus melatih keberanian menyampaikannya di hadapan orang lain.
Selain pagelaran seni, Paturay Tineung juga menjadi momen pengukuhan Duta BINALAR dan Kakak BINALAR, sebuah langkah untuk memastikan semangat dan kegiatan BINALAR tetap hidup meski program telah usai. Salah satu peserta yang terpilih sebagai Duta BINALAR, Lala (LS), mengaku senang sekaligus bangga atas kepercayaan yang diberikan kepadanya.
“Aku senang banget bisa kepilih jadi Duta BINALAR. Aku pengen banget program BINALAR ini jangan sampai berhenti di sini. Kalau nanti programnya sudah selesai, aku mau tetap bantu teman-teman dan ikut meneruskan kegiatan-kegiatannya. Aku juga mau tetap monitoring supaya kegiatan yang sudah diajarkan kakak-kakak BINALAR bisa terus berjalan,”
— Lala (LS), Duta BINALAR Terpilih
Komitmen keberlanjutan ini turut ditegaskan lewat serah terima surat kerja sama antara tim BINALAR dan Yayasan Rumah Cahaya Cendekia. Lewat Paturay Tineung, BINALAR tak sekadar menutup rangkaian program, tetapi juga membuka jalan baru, memastikan bahwa apa yang telah ditanam selama ini terus tumbuh, bahkan setelah tim BINALAR tak lagi hadir setiap hari di tengah mereka.
Tim PKM-PM BINALAR FISEMA IPB
Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat 2026
Program pemberdayaan kreasi seni dan ekspresi emosi remaja panti berbasis pendekatan BINA–AKSI–LARUNG–RASA untuk membangun kapasitas, kemandirian, dan kepercayaan diri generasi muda.